Masih Tahap

Masih Tahap Uji Coba, Ini Kata Kapolri Tentang Robot Polisi !

Masih Tahap Uji Coba Sebelum Memutuskan Membeli, Supaya Polri Tahu Apakah Harga Dan Manfaatnya Sepadan. Munculnya spekulasi bahwa satu unit robot tersebut bernilai hingga Rp 3 miliar langsung menuai reaksi beragam dari masyarakat, terutama di media sosial. Namun, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa robot-robot tersebut Masih Tahap Uji Coba, bukan bagian dari pengadaan resmi institusi, serta tidak menggunakan dana APBN maupun APBD. “Robot yang kemarin di pamerkan itu masih dalam tahap uji coba. Jadi tidak ada anggaran negara yang di keluarkan”. Pernyataan ini sekaligus meluruskan kekhawatiran publik terkait potensi pemborosan anggaran negara dalam belanja teknologi canggih.

Robot-robot tersebut, termasuk robot anjing (robodog), robot humanoid, dan kendaraan robotik taktis, merupakan bagian dari demonstrasi kemampuan teknologi hasil kerja sama dengan perusahaan lokal seperti PT Sari Teknologi dan PT Ezra Robotics Teknologi. Karena Masih Tahap Uji Coba, ada sekitar 25 unit robot di perlihatkan. Beberapa di antaranya di rancang untuk keperluan pengintaian, deteksi bahan peledak, pemantauan kerumunan, hingga pelayanan publik. Salah satu unit yang menjadi sorotan adalah robodog X30 Pro yang di kabarkan memiliki harga mencapai hampir Rp 3 miliar.

Masih Tahap Uji Coba Dan Bagian Dari Strategi

Rencana pengadaan resmi pun di sebut-sebut akan mulai di bahas dalam anggaran tahun 2026 mendatang. Meski demikian, tanggapan masyarakat masih terbelah. Di satu sisi, banyak yang mengapresiasi langkah Polri untuk beradaptasi dengan kemajuan zaman dan teknologi. Namun di sisi lain, ada yang menganggap pemanfaatan robot bisa menjadi sia-sia bila tidak di imbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan kepolisian terhadap masyarakat secara umum. Pakar kebijakan publik dan pengamat teknologi menyarankan agar setiap langkah di gitalisasi di lakukan dengan prinsip transparansi, efisiensi, dan audit terbuka.

“Robot canggih memang menarik, tapi pertanyaannya: apakah sesuai dengan kebutuhan? Apakah urgensinya sudah tepat? Dan yang terpenting, apakah prosesnya bebas dari potensi mark-up anggaran?” ujar Dr. M. Taufik, dosen kebijakan publik di salah satu universitas negeri di Jakarta. Dengan klarifikasi resmi dari Polri, publik di harapkan tidak lagi terjebak pada isu harga semata, melainkan bisa fokus pada proses evaluasi, efektivitas, serta urgensi dari teknologi tersebut. Penggunaan robot di sektor keamanan sejatinya sudah menjadi praktik umum di berbagai negara maju. Namun, keberhasilan implementasi selalu bergantung pada keterbukaan informasi dan keterlibatan publik dalam pengawasan.

Robot Polisi Yang Di Pamerka

Robot-robot ini tidak hanya tampil futuristik, tetapi juga di lengkapi dengan sejumlah teknologi mutakhir yang di rancang untuk mendukung berbagai tugas kepolisian, dari patroli, intelijen, hingga penanganan bahan berbahaya. Salah satu unit paling mencuri perhatian adalah robodog tipe X30 Pro. Robot ini memiliki bentuk menyerupai anjing, lengkap dengan empat kaki yang memungkinkan pergerakan lincah di medan sulit. Robodog ini di bekali dengan sensor LiDAR untuk pemetaan 3D lingkungan secara real-time, kamera termal untuk mendeteksi panas tubuh manusia di area gelap atau tertutup.

Menimbulkan Berbagai Kontroversi

Meskipun Polri telah menyatakan bahwa robot-robot tersebut masih dalam tahap uji coba dan belum di anggarkan melalui APBN. Publik tetap mempertanyakan sejumlah aspek yang di anggap belum transparan dan berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran di masa mendatang. Salah satu hal yang paling memicu kontroversi adalah klaim harga satu unit robot yang mencapai rp 3 miliar. Angka ini di anggap fantastis dan memicu kekhawatiran publik bahwa pengadaan teknologi canggih ini. Bisa menjadi celah baru bagi praktik mark-up atau pemborosan dana negara. Apalagi ketika di bandingkan dengan kebutuhan dasar institusi kepolisian yang masih banyak di keluhkan masyarakat.